valentine day?

Perayaan Valentine’s Day setiap tanggal 14 Februari yang membudaya saat ini pada dasarnya merupakan simbiosis antara Gerakan Kelompok Pemuja Libido dengan moral kapitalis dengan media Paganisme. Kelompok yang akan menangguk keuntungan dari Valentine’s Day adalah kaum kapitalis yang menggunakan aji mumpung, baik perajin, penjual pernak-pernik Valentin, ataupun pengusaha tempat hiburan yang menyediakan sarana pelampiasan libido. Oleh karena itu, yang harus diantisipasi dari gerakan ini adalah, runtuhnya moral kagamaan, dan akibat yang paling tragis adalah makin diterimanya seks bebas sebagai bagian dari budaya generasi muda dimasa datang. Demikian antara lain pandangan terhadap Valentine’s Day disampaikan oleh Dr. Dadan Muttaqien, kepada Humas UII pada Kamis, 12 Februari 2009.

Menurut Dadan, jika ditelusuri, sejarah perayaan Valentine’s Day erat kaitannya dengan perayaan Lupercalia yang dulu merupakan rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno selama enam hari (13-18 Februari). Dua hari pertama masa upacara itu khusus dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada dua hari itu, para pemuda mengundi secara acak nama–nama gadis yang dimasukkan di dalam kotak. Kemudian gadis yang namanya terambil harus mau menjadi pasangan si pemuda selama setahun untuk menyenangkan dan menghibur si pemuda. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Selanjutnya, Kepala Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum Islam (PKBHI) FIAI UII ini menjelaskan, ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukung cara ini adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.
Dadan juga menemukan bahwa dalam The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine dituliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.
Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya.
Menjawab pertanyaan berkaitan dengan ucapan “Be My Valentine.” Dadan menyampaikan bahwa Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan kata “Valentine” berasal dari Bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut Tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri.
Lebih jauh dipaparkannya, apa yang terjadi pada dekade-dekade terakhir dalam kaitannya dengan perayaan Valentin, sebagaimana dimuat dalam media massa, baik elektronik maupun cetak, secara sadar atau tidak, merupakan suatu kampanye massal perlawanan terhadap nilai-nilai agama (agama manapun tidak meratifikasi seks bebas). Apalagi dihantarkan oleh para penulis di media massa, atau dengan kalimat-kalimat yang menarik tapi menyesatkan dari ucapan para pembawa acara di media elektronik. Hal ini seperti narkoba yang membius para pemirsa, terutama para remaja yang sedang dalam usia puber. Dengan memakai kalimat ’kasih-sayang’ yang bahasa lainnya adalah cinta, akan sangat berpengaruh dalam jiwa mereka. Rasa cinta yang tidak didasari iman, berubah menjadi senjata setan yang akan mencelakakan siapapun, khususnya kaum remaja.
Mengakhiri wawancara tersebut, Dadan mengingatkan bahwa Valentine’s Day sebenarnya, seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penyimpangan penghormatan kepada para pastor. Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan “kasih sayang” dalam arti yang seharusnya, tapi lebih kepada kasih sayang dengan tujuan mengumbar nafsu. Jadi sebaiknya jangan latah merayakan sesuatu yang sebenarnya selubung dari hedonisme meski dengan dalih hari kasih sayang,  Hari Valentine.
Valentine’s Day berasal dari budaya Barat dan bagian dari acara ritual agama lain. Kepada kaum muslim, khususnya yang masih remaja, ingatlah firman Allah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (QS. Al Isra’: 36).


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Februari 2009
    S S R K J S M
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728